detikasia.comDirektur Departemen Komunikasi, Arbonas Hutabarat mengatakan Bank Indonesia (BI) akan tetap mewaspadai perkembangan ekonomi global untuk mempertahankan stabilitas perekonomian Indonesia.

“Ke depan, sejumlah risiko pada perekonomian global tetap perlu diwaspadai, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat antara lain rencana kenaikan Fed Fund Rate, pengurangan besaran neraca bank sentral, dan ketidakpastian kebijakan fiskal,” kata Arbonas di gedung BI, Jakarta, Kamis (20/7) malam.

Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi dunia terus membaik sesuai perkiraan dengan beberapa risiko yang tetap perlu dicermati. Di satu sisi, perekonomian AS diperkirakan tumbuh lebih rendah akibat dari investasi yang tertahan oleh terbatasnya dampak kebijakan fiskal dan menurunnya prospek harga minyak.

Di sisi lain, perekonomian China diperkirakan tumbuh lebih baik ditopang oleh konsumsi dan ekspor yang meningkat. Di Eropa, pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan lebih baik seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi, kinerja ekspor yang membaik dan meningkatnya optimisme perekonomian.

Dengan adanya perbaikan ekonomi global tersebut akan mendorong meningkatnya volume perdagangan dunia dan diharapkan dapat berdampak positif terhadap ekspor Indonesia.

“Demikian pula, harga komoditas global diperkirakan tetap tinggi, meskipun harga minyak berpotensi bisa ke bawah karena pasokan yang berlebih di tengah permintaan yang terbatas,” imbuhnya.

Seperti diketahui, BI kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) sebesar 4,75 persen. Sementara, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,50 persen. Ini berlaku efektif sejak 21 Juli 2017.

Keputusan tersebut sejalan dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian global dan domestik (mdk|dwk)

BAGIKAN

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini