Muhammad Fayyadh, kuasa hukum Komariah. (Desyinta Nuraini/JawaPos.com)

DetikAsia.com,Jakarta – Pengacara korban pembagian sembako maut di Monas mendesak agar polisi tegas menyikapi acara yang bikin hilang nyawa itu. Soalnya polisi sebelumnya menyatakan korban bukan tewas karena mengantre sembako.

“Kita hanya bisa meminta Kapolri dan penegak hukum lain bersikap profesional dan tegas. Kalau memang terbukti ada kelalaian, maka ancaman pidananya lima tahun,” kata pengacara Muhammad Fayyadh kepada detikcom, Kamis (3/5/2018).

Fayyadh adalah pengacara Komariah, ibu dari korban tewas bernama Muhammad Rizky Saputra (10). Dia mendesak agar polisi mengklarifikasi pernyataan bahwa Rizky dan Mahesa, satu korban tewas yang lain, meninggal bukan karena desak-desakan di antrean melainkan karena sakit. Polisi dinilainya tak boleh bicara tanpa dasar fakta. Namun polisi sudah terlanjur memberi pernyataan, maka polisi harus meminta maaf.

“Kalau tidak ada itikad baik permohonan maaf, kita akan berupaya mengajukan kasus ini ke bagian Profesi dan Pengamanan (Propam),” kata dia.

Rizky dan Mahesa meninggal dunia, terkait bagi-bagi sembako di Monas, Jakarta, Pusat, pada Sabtu (28/4) lalu. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan Rizky dan Mahesa tak meninggal karena antrean sembako yang kacau itu.

Argo menyatakan kesimpulan itu bersumber dari laporan Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu. Disimpulkan polisi, Rizky dan Mahesa meninggal di Rumah Sakit Tarakan Jakarta karena suhu badan yang tinggi. Rizky disebutnya punya riwayat penyakit.

“Berdasarkan keterangan dokter, kematian dikarenakan suhu badan yang sangat tinggi,” kata Argo dalam keterangannnya, Selasa (1/5) kemarin. (Detik/TR)

BAGIKAN

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini