Mahasiswa UB sulap bayam, kulit jeruk dan kulit pisang jadi listrik. ©2018 Merdeka.com

DetikAsia.com – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menyulap limbah organik menjadi listrik. Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian memanfaatkan limbah bayam, kulit pisang dan kulit jeruk sebagai penghasil listrik dengan menggunakan teknologi MFC (Microbial Fuel Cell).

“Microbial Fuel Cell atau MCF adalah salah satu teknologi yang mengonversi energi biomassa dari limbah organik menjadi listrik berbasis aktivitas mikroba,” kata Elviliana, Ketua Tim Penelitian di Universitas Brawijaya Malang, Jumat (29/6).

Elviliana menuturkan, Indonesia kaya dengan sayur dan buah-buahan, tetapi limbahnya masih belum terolah secara optimal. Walaupun, sejatinya limbah tersebut masih mengandung potensi yang dapat dimanfaatkan.

“Dari ketiga sampel yakni bayam, kulit jeruk dan kulit pisang yang kita uji, terbukti limbah kulit pisang yang paling berpotensi. Ini disebabkan hasil tegangan dan arus listriknya yang lebih stabil, tidak mengalami penurunan yang signifikan sehingga sangat berpotensi untuk mengatasi masalah energi,” katanya.

Keuntungan lain dari teknologi ini adalah sifatnya yang direct conversion sehingga lebih praktis dan efisien. Berbeda dengan teknologi lain yang relatif lebih mahal serta rumit prosesnya, teknologi MFC ini sangat praktis, karena hanya memasukkan limbah organik yang telah di pretreatment ke dalam reaktor dan listrik pun tercipta.

“Pretreatment yang kita lakukan pun sederhana karena hanya menghaluskan limbah tersebut menggunakan penggiling rumah tangga biasa. Kita bahkan juga tidak menambahkan bahan apapun ke dalam reaktor sehingga murni memanfaatkan aktivitas mikroba limbah itu sendiri. Jadi penelitian kami ini selain mampu mengatasi kebutuhan energi juga sekaligus menanggulangi limbah,” jelasnya.

Elviliana juga mengatakan, kebutuhan energi yang semakin meningkat setiap tahun menjadi salah satu masalah yang dihadapi berbagai negara, termasuk Indonesia. Data BPPT 2016, kebutuhan energi listrik Indonesia selama kurun waktu 2014-2050 diprediksi tumbuh dengan rata-rata 5,3 persen per tahun.

Sementara itu, berkurangnya cadangan energi fosil dan sulitnya akses masyarat di daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan merupakan beberapa permasalahan yang harus dihadapi pada sektor energi.

Elviliana bersama Chrisma Virginia dan Oddy South Lolo Toding di bawah bimbingan Sri Suhartini mencoba memberikan alternatif dengan memanfaatkan barang yang tidak pernah dilirik sebelumnya. Padahal sampah itu sejatinya dapat menjadi sumber energi alternatif.

“Di sisi lain, sebagai negara agraris, Indonesia kaya akan tanaman organik seperti bayam, pisang dan jeruk, yang belum banyak dimanfaatkan,” urainya. (Merdeka.com/TR)

BAGIKAN

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini