Ambika (baju biru muda) bersama Jayavartiny saat tiba di pengadilan. (Okezone)

DetikAsia.com, Bukit Martajam – S Ambika alias MA Shan (59), majikan yang mempekerjakan dan dituduh menganiaya TKI asal Indonesia, Adelina Lisao, menghadapi tuntutan hukuman mati di pengadilan negeri setempat, Rabu (21/2/2018) kemarin.

Seperti dilansir The Star, Ambika menghadapi tuduhan itu karena tindakannya telah menyebabkan kematian Adelina di rumahnya di Medan Kota Permai 2, Taman Kota Permai, Bukit Mertajam, Pulau Pinang Malaysia, Sabtu (10/2/2018) sekira jam 17.00 waktu setempat.

Tuntutan itu sesuai dengan Pasal 302 KUHPidana Malaysia (Penal Code) dengan ancaman hukuman mati. Belum ada pembelaan yang dilakukan Ambika sejauh ini. Sementara itu, putri Ambika, Jayavartiny dituntut karena mempekerjakan Adelina meski mengetahui wanita itu tidak memiliki izin kerja resmi.

Jika dinyatakan bersalah, berdasarkan Pasal 55B Undang-undang Imigrasi Malaysia, mempekerjakan tenaga asing bisa dijatuhi denda antara RM10.000 hingga RM50.000, atau hukuman penjara maksimal 12 bulan, atau kedua-duanya sekaligus.

Jayavartiny dilaporkan meminta sidang pengadilan untuk tuduhan itu. Ambika dan putrinya R Jayavartiny (32) tiba di gedung pengadilan setempat menaiki kendaraan polisi sekira jam 13.50 waktu setempat (12.50 Wib). Keduanya tiba dengan tangan tergari dan dirantai.

Jayavartiny, mengenakan kemeja hitam dan rok coklat serta memakai sepatu hak tinggi, menutupi wajahnya untuk menghindari lensa kamera. Sementara Ambika, mengenakan baju tradisional dengan kedua tangan tergari, berjalan tanpa menutupi wajahnya.

Sedangkan saudara laki-laki Jayavartiny yang sempat ditahan dalam kasus ini akhirnya dibebaskan, meski dinyatakan wajib bersaksi selama persidangan.

Jaksa Penuntut Umum Hamzah Azhan menjadi penuntut dalam kasus ini, sebelumnya meminta hakim untuk menetapkan RM20.000 sebagai jaminan masa penangguhan, sementara Jayavartiny diwakili penasehat hukumnya, Muhaimin Hashim, meminta keringanan karena persoalan ekonomi yang dihadapi kliennya.

Hakim Muhamad Anas Mahadzir akhinya memutuskan untuk mendengar keterangan bagi kedua kasus tersebut pada 19 April mendatang dan mengizinkan penangguhan penahanan dengan jaminan RM15,000 disertai seorang penjamin bagi Jayavartiny.

Polisi menahan Ambika pada 12 Februari 2018 lalu, dua hari setelah Jayavartiny dan abangnya ditahan dengan tuduhan penganiayaan terhadap Adelina. Adelina (21), meninggal dunia di RS Bukit Mertajam pada 11 Februari 2018 setelah ditemukan sekarat sehari sebelumnya di kediaman tersangka, di mana dia dipaksa tidur dengan anjing peliharaan majikannya.

Dia ditemukan dengan luka di sekujur tubuhnya dan meninggal dunia disebabkan mengalami gagal organ tubuh sehari kemudian. (M24J/TR)

BAGIKAN

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini