Kondisi blok Napi Korupsi di Lapas Tanjung Gusta

Kalau sudah bayar, maka bisa memiliki kasur yang empuk, pemanas air mandi, penanak nasi dan fasilitas lainnya. Bahkan warung atau toko jajanan dibuka petugas Lapas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kondisi ini tentu sangat jauh berbeda dengan fasilitas terpidana umum

DETIKASIA-Uang sogok agar tidak dikirim ke Nusa Kambangan bagi Terpidana kasus Narkoba bocor ke awak media. Didapat info dari sumber terpercaya, petugas Lapas Tanjung Gusta diduga mendulang uang dari para Napi hingga milyaran rupiah per bulannya. Semua dapat dijadikan ajang bisnis. Parahnya lagi, Napi yang ingin berobat keluar Lapas mesti menyetorkan uang puluhan juta rupiah.

Menurut sumber, belum lama ini Napi kasus Narkoba asal Aceh berinisial H dan S akan dikirim ke Nusakambangan, namun pengiriman tersebut tidak jadi dilakukan karena kedua Napi tersebut membayarkan sejumlah uang. Akhirnya, pihak Lapas mengirimkan nama Napi lainnya untuk dikirimkan ke Nusa kambangan.

Kamar Napi kasus Korupsi di Lapas Tanjung Gusta

Transaksi jual beli kamar dan uang suap lainnya bocor ke sejumlah media. Para Napi keberatan dengan biaya besar yang dipalak kepada mereka.

Menurut sumber media ini, mereka tak dapat berkutik menghadapi petugas lapas yang semakin sewenang-wenang kepada mereka.

“Sejak Kalapas yang baru ini, kami sangat menderita disini pak… Tapi tolong nama kami dirahasiakan ya,” lapor sumber berita.

Dijelaskan, transaksi jual beli kamar sudah tidak asing lagi di dalam Lapas. Para terpidana kasus korupsi dan Bandar Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan dapat memiliki fasilitas istimewa asalkan punya uang. Kalau sudah bayar, maka bisa memiliki kasur yang empuk, pemanas air mandi, penanak nasi dan fasilitas lainnya. Bahkan warung atau toko jajanan dibuka petugas Lapas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kondisi ini tentu sangat jauh berbeda dengan fasilitas terpidana umum.

Apalagi kamar sejumlah mantan pejabat di lantai bawah sangat berbeda dibandingkan kamar Terpidana Umum. Lampu kamar teramat terang menggunakan gorden serta kasur springbed. Misalkan, kamar mantan Bupati Batubara OK Zulkarnain, mantan Walikota Medan Rahudman Harahap, pengusaha Sujendi Tarsono alias Ayen dan Aldo Napi Narkoba. Berbanding terbalik dengan kondisi sejumlah kamar yang berada di lantai atasnya.

Sejumlah sumber media ini yang meminta namanya dirahasiakan menyampaikan, fenomena ini terjadi bukan tanpa alasan. Pasalnya, sumber uang bagi petugas Lapas sangat menggiurkan. Dari 3.500-an penghuni Lapas, diperkirakan tiap bulannya dapat menghasilkan uang hingga Rp3,5 milyar.

Sesuai informasi didapat, dugaan pemalakan dominan bagi para Napi kasus korupsi dan bandar narkoba. Kamar dapat dijual bervariasi, dari harga Rp30 juta sampai Rp40 juta.

Terkait Napi yang akan keluar berobat, menurut sumber yang layak dipercaya, dibanderol sekitar Rp25 juta. Kalau tidak ada uang, maka jangan harap dapat berobat ke luar.

Terkait seluruh informasi ini, Wartawan melakukan konfirmasi kepada Kepala Lapas Tanjung Gusta Medan Budi Argap Situngkir, Kamis (27/12/2018).

Salah satu kondisi kamar di dalam Lapas

Menurut Budi, praktik jual beli kamar seharga Rp30 juta hingga Rp40 juta itu, tidak benar.

“Ambil aja uangnya biar kita bagi… Lapor Polisi biar ditangkap petugasnya,” kata mantan Kalapas IIB Binjai ini.
Ditanya soal dugaan suap dari Narapidana agar tidak dikirim, contohnya kasus besar narkoba dengan narapidana berinisial H dan S, yang tidak jadi dikirim karena diduga memberikan sogok, menurut Budi Situngkir juga tidak benar.
“Itu tidak benar, kalau bapak mau konfirmasi, cari sumbernya. Siapa yang dipalaki itu, harus jelas. Jangan dari-dari… Kalau enggak, bapak datang kesini. Kalau nggak bapak saya laporin… Lapor Polisi aja karena sekarang jamannya sudah terbuka,” jawabnya.

Ditambahkannya, mengenai isu sogok pengiriman Napi ke Nusakambangan cukup mengherankan.
“Sekarang, bapak dari mana tau, itu pak? Yang dipindahkan itu sudah penuh pertimbangan. Punya potensi-potensi dan yang dipindahkan itu dari daerah-daerah. Ini (Lapas Tanjung Gusta) cuma transit dan setiap orang yang dipindahkan pasti keberatan pak… Kami sekarang terbuka..” katanya.

Sedangkan mengenai Napi berobat keluar Lapas diduga diminta uang sampai Rp25 juta, menurut Budi Argap Situngkir adalah fitnah.

“Itu kata-kata fitnah itu. Bapak boleh lihat berapa yang keluar berobat. Itu tidak benar,” tutup Budi Situngkir yang pernah juga jadi Karutan Tanjung Gusta Medan ini (tim/ap/red).

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini