KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Uang dollar Amerika Serikat dan rupiah di sebuah bank nasional di Jakarta, beberapa waktu lalu

DetikAsia.com – Nilai tukar rupiah pada perdagangan siang ini, Selasa (2/10), pukul 13.01 WIB akhirnya melampaui Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut telah melewati level psikologis dan yang paling rendah sejak krisis moneter dua dekade silam.

Menurut data pasar spot Bloomberg, seperti dilansir dari laman Kompas.com, pada Selasa (2/10/2018), rupiah diperjualbelikan pada level Rp 15.025 per dollar AS. Nilai tersebut melemah sebanyak 114,5 poin atau 0,77 persen ketimbang posisi pembukaan, di mana per dollar AS masih Rp 14.845.

VC Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede buka suara menanggapi hal tersebut. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tak hanya dipicu oleh penguatan dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia dalam perdagangan waktu AS beberapa hari lalu.

Ada juga faktor penyebab semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, yakni kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS dibarengi dengan harga minyak dunia yang ikut naik.

Di sisi lain, kembali memanasnya isu perang dagang antara AS dan China, setelah Negeri Paman Sam mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Kanada dan Meksiko. Hal tersebut mengisyaratkan diberlakukannya pembatasan barang-barang dari China.

Baca Juga: Kondisi Ekonomi 2018 Diklaim Lebih Buruk Dibanding 1998, Pakar Singkap Fakta di Baliknya

“Tren kenaikan harga minyak dunia yang telah mencapai level 75 dollar AS per barel untuk WTI (West Texas Intermediate) dan menembus level 85 dollar AS per barel untuk Brent, berpotensi akan berdampak negatif bagi negara-negara yang notabene net-oil importer karena akan memberikan tekanan pada pelebaran defisit transaksi berjalan,” jelas Josua, Selasa (2/10).

Lebih lanjut, Josua mengungkapkan, berbagai sentimen global turut mendorong koreksi di pasar keuangan domestik. Pasalnya, terjadi aliran dana asing keluar baik melalui pasar obligasi maupun di pasar modal.

Dikarenakan adanya sentimen global yang cenderung risk-averse akhirnya mendorong koreksi pada pasar keuangan domestik, didorong keluarnya dana asing dalam pasar obligasi serta pasar saham. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bertenor 10 tahun pun ikut naik sekitar 9 bps, yakni menjadi 8,10 persen.

Direktur Strategi Investasi sekaligus Kepala Makroekonomi Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengungkapkan, menurut hasil analisis model yang dilakukan, melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan karena melonjaknya harga minyak dunia. Pasalnya, Indonesia tak lagi menjadi bagian dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

“Sementara harga komoditas income seperti batu bara, CPO dan karet masih lemah,” ujar Budi.

Terkait pelemahan rupiah terhadap dollar AS, ditanggapi juga oleh Ekonom Center of Reform in Economics Piter Abdullah. Menurutnya, ketidakpastian dalam perekonomian global yang masih juga diperburuk oleh kondisi domestik lantaran defisit transaksi berjalan (CAD) menjadi faktor utama dari kembali semakin loyonya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

“Jadi sangat tidak mengejutkan kalau hari ini rupiah melemah menembus Rp 15.000,” kata Piter Abdullah.(SK/TR)

BAGIKAN

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini