DetikAsia.com, Medan – Sejak tahun 2017 lalu, koran ini gencar menyuarakan maraknya obat-obatan dan kosmetik diduga ilegal bebas di perjualbelikan di Kota Medan.
Kendati ramai diberitakan, namun tak satupun jenis produk ilegal tersebut yang berhasil ditertibkan.
Pantauan koran ini, sejumlah Toko Obat, Salon dan Apotik yang menjual produk diduga ilegal tersebut masih melenggang menjualnya.
Ketua DPC LSM Pemberantasan Korupsi, Judi, Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (Narkoba) dan Sindikat Mafia (Berkordinasi) Kota Medan Zamal A Harahap SH, terang-terangan mengungkap masalah ini, namun Balai BPOM dan Kepolisian terkesan diam saja sehingga diduga turut ‘terlibat’.
Menurut Zamal, sindikat ini amat besar dan profesional. Jikalau aparat terkait serius memberantasnya, maka tidak akan sulit untuk menangkap mereka. Misalkan saja, di setiap Plaza dan Mall di Kota Medan akan mudah ditemukan jaringan sindikat ini.
“Marak dijual parfum dari Luar Negeri yang tidak memiliki izin edar di Indonesia. Masalahnya sudah jelas. Negara dirugikan dari sektor Pajak. Produk impor sengaja bebas di perjualbelikan dan marak beredar di lapangan diduga karena sudah menyetor kepada aparat berwenang,” kesal Zamal.
Hasil investigasi Tim koran ini, salah satu Bos penjual produk diduga ilegal salah satu Toko di Jalan Krakatau. Bos besar berinisial ‘A’ ini diduga menjual barang kosmetik seperti Temu Lawak, Kolagen, Natural dan RDL. Jenis kosmetik yang tidak memiliki izin edar ini sudah ramai beredar di lapangan.
Misalnya, di kompleks Asia Mega Mas. Setiap malam berjejer Steling penjual alat-alat kosmetik tidak memiliki izin edar tersebut. Juga Toko Kosmetik di terminal Kampung Lalang bahkan ratusan toko-toko sejenis bebas beroperasi di Kota Medan.
Selain itu, Toko-toko Obat China yang dikenal menjual barang ilegal seperti Toko Abadi, Bali, Solo, dan Horas tak asing lagi bagi kalangan warga etnis Tionghoa.
Begitu juga dengan Toko Obat Kemenangan di Pajak Gajah, Toko Obat Sentosa di jalan Sumatera dan Budiman di Jalan Kereta Api.
Kemudian, Wakamoto juga jenis produk ilegal dari Jepang, yang juga termasuk produk obat tanpa izin (ilegal). Kemudian, minuman Maraton dan Maratonis sebagai minuman khusus bagi ibu yang baru melahirkan juga produk ilegal. Masih terdapat ribuan jenis produk ilegal lainnya.
Sementara sejumlah apotik juga terpantau menjual barang-barang haram, seperti Obat Panadol dan Bodrek impor. Catatan koran ini marak Apotik secara ‘diam-diam’ menjual obat ilegal tersebut.
Padahal, anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Muhri Fauzi Hafiz telah mendesak Kapoldasu agar mengusut tuntas peredaran kosmetik dan obat-obatan ilegal ini. Namun, Polisi hanya bisa mengucapkan terima kasih atas info yang disampaikan oleh kru koran ini.
Informasi yang beredar saat ini, akibat gencarnya pemberitaan koran ini, maka para pemilik toko obat dan kosmetik ilegal diarahkan agar tidak terlalu sembarangan memberikan jenis barang haram tersebut kepada pembeli yang dicurigai untuk mengambil contoh dari produk kosmetik ilegal tersebut.
Barang-barang haram tersebut diduga disimpan di tempat yang tidak terlalu mencolok di dalam toko. Termasuk soal kutipan setoran, disebut-sebut kini diarahkan melalui transfer ke rekening bank salah seorang sindikat yang menjamin keamanan bagi para pemilik Toko.

Jaringan Sindikat
Sebelumnya diberitakan, bebasnya peredaran kosmetik ilegal di Kota Medan, mulai dari pemasok hingga pengantar setoran ke pihak berwenang diduga terorganisir rapi.
Kosmetik hingga obat-obatan tanpa izin edar dan diduga mengandung bahan kimia dan obat berbahaya sangat marak beredar dan bebas dijual di Kota Medan sebagai pusat ibukota Propinsi Sumatera Utara.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena aparat terkait tidak sungguh-sungguh bekerja merazia peredaran obat-obatan dan kosmetik ilegal tersebut.
Disebut-sebut, sejak lama telah dibentuk jaringan sindikat peredaran produk kosmetik dan obat-obatan. Koordinator Lapangan (Korlap) atau lazim juga disebut sebagai pengawas diduga mengutip sejumlah uang dari setiap toko obat dan kosmetik ilegal di Kota Medan yang tergabung di dalam kelompok mereka, tergantung banyaknya obat dan kosmetik ilegal yang dijual oleh pemilik toko.

Bebas Diperjualbelikan
Tak sulit menemukan alat-alat kecantikan ilegal dan obat-obatan import di Kota Medan. Seperti di Pusat Pasar Medan Mall/Cathy, Pasar Sambas, Pasar Petisah dan sejumlah Plaza dan Mall lainnya.
Ketua LSM Berkordinasi Kota Medan Zamal A Harahap SH menantang aparat berkompeten membuktikan pihaknya tidak terlibat.
“Kalau berani, mari kita razia toko-toko obat dan kosmetik yang bebas memperjualbelikan barang-barang ilegal tersebut. Kalau memang tidak menerima upeti, maka buktikan dengan tindakan nyata. Kita sudah laporkan dan memiliki buktinya. Maka kita minta segeralah mengadakan razia dan bersihkan Kota Medan ini dari barang-barang ilegal itu,” tandasnya.

Setoran Hingga Rp12 Juta
Sebagaimana dilansir dari akun www.tobapos.co, disebut-sebut pria bernama ‘D’ merupakan Korlap sebahagian besar toko kosmetik dan obat-obatan yang menjual berbagai kosmetik dan obat-obatan ilegal di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan.
Pria ‘D’ juga ditengarai dapat mengeluarkan para pemilik toko yang tertangkap karena menjual barang-barang haram tersebut.
Tidak hanya itu, peran Korlap ‘D’ dalam memuluskan peredaran obat-obatan ini sangat profesional. Bahkan oknum Polri yang coba-coba mengganggu bisnisnya dikabarkan dapat ditindak melalui jasa Propam Polri.
Setiap toko kosmetik disebut-sebut dikutip Korlap ini dengan nominal bervariasi, mulai dari Rp1 juta per bulan hingga Rp12 juta per bulan, berdasarkan banyaknya kosmetik ilegal yang dijual toko kosmetik yang berada di bawah pengawasan si koordinator.
Setelah uang dikumpulnya dari para pemilik toko dengan modus asosiasi, kemudian ‘D’ menyetorkan uang tersebut kepada pihak berwenang seperti diduga oknum di Balai BPOM dan Kepolisian sesuai jadwal.
Dalam prakteknya di lapangan, ‘D’ kerap menggunakan jasa salah satu Surat kabar mingguan ‘SP’. Guna meyakinkan pemilik toko kosmetik, ‘D’ juga memastikan anggota yang ditangkap aparat berwenang, akan diurusnya hingga bebas.
Beberapa jenis kosmetik ilegal produk dalam dan luar negeri yang dijual di toko-toko dibekingi ‘D’ seperti di salah satu Apotik di kawasan Jalan Thamrin Medan. Tak tanggung-tanggung Apotik tersebut sangat berani memampangkan tulisan “PERS Sketsa Publik” di Apotik miliknya.
Penelusuran kru koran ini, sejumlah produk kosmetik yang diduga tidak memiliki Izin Edar tersebut seperti Temulawak Cream warna kuning, Natahsya, Luzzini, Renewal Cream, Baby Face 3 dan masih banyak lagi jenis produk lainnya.
Terkait informasi ini, ‘D’ melalui nomor selulernya 081264788*** ketika dikonfirmasi, Jumat (3/11/2017), terkesan enggan memberikan jawaban, meski telah di SMS dan dihubungi nomornya, tapi ‘D’ tidak menjawab.

Ribut Karena Setoran
Diberitakan sebelumnya, ‘D’ disebut-sebut memotong jatah Polisi setiap bulannya sebesar Rp200 juta, yang berasal dari setoran para pengusaha toko obat dan kosmetik-kosmetik ilegal di Kota Medan, Provinsi Sumut.
Akibatnya, terjadi keributan di Poldasu baru-baru ini dipicu kelakuan pria yang mengaku sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Obat-obatan bermasalah itu.
Informasi tersebut diperoleh www.tobapos.co dari salah seorang pengusaha obat yang mengenalnya.
Disebutkan sumber itu lagi, setiap bulannya Korlap ini mengumpulkan uang setoran dari para pengusaha toko obat ilegal guna disetorkan ke oknum Polisi nakal di Poldasu. Namun, uang setoran tersebut diduga dipotong yang bersangkutan dari sekitar Rp200 juta perbulannya, tapi disetorkan hanya Rp50 juta saja.
“Ribut di Poldasu gara-gara uang setoran dipotong ‘D’, baru-baru ini saja kejadiannya,” ujar sumber terpercaya, Kamis (22/06/2017).
Terkait informasi tersebut, ‘D’ yang dikonfirmasi melalui selulernya belum memberikan jawaban .[PER/TR]

BAGIKAN

BERIKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar anda
Silakan masukan nama anda disini